BREAKING

Saturday, October 18, 2014

Iskandar Zulkarnain Resmi Jabat Kepala LIPI

Prof Dr Iskandar Zulkarnain yang sebelumnya sebagai Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian kini menjabat Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggantikan Prof Dr Lukman Hakim.
Pelantikan Kepala LIPI berlangsung di Auditorium LIPI, Jakarta, Jumat (17/10) malam, dilakukan oleh Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Prof Dr Gusti Muhammad Hatta.

Menristek dalam sambutannya mengatakan bahwa pelantikan kali ini sangat istimewa karena untuk pertama kalinya Kementrian Riset dan Teknologi melaksanakan rekrutmen terbuka untuk pimpinan Lembaga Pemerintah Nonkementerian (LPNK), dan ini untuk pertama kalinya dilaksanakan oleh LIPI.

Hal ini, menurut dia, sejalan dengan Peraturan Menteri Menpan dan RB Nomor 13 tahun 2014 tentang tata cara pengisian jabatan pimpinan tinggi secara terbuka di lingkungan instansi pemerintah.

"Alhamdulillah pelaksanaan pola rekrutmen tersebut berjalan dengan baik, dan diikuti oleh sembilan calon, baik dari internal maupun eksternal sehingga Kepala LIPI terpilih Prof Dr Iskandar Zulkarnain telah melalui prosedur yang dilaksanakan dengan semangat reformasi birokrasi. Selanjutnya saya mengharapkan semua Kepala LPNK dan jajarannya mengikuti pola open bidding atau rekrutmen seleksi terbuka," ujar dia.

Hal istimewa lainnya pada pelantikan Kepala LIPI kali ini, menurut dia, karena dilaksanakan pada malam hari, hal ini dikarenakan Iskandar Zulkarnain baru kembali dari luar kota, sehingga pelantikan yang sedianya dilaksanakan pagi harus dilaksanakan pada malam harinya.

Prof Dr Ir Iskandar Zulkarnain dikukuhkan sebagai profesor riset bidang geologi dan geofisika pada Agustus 2013. Ia melakukan penelitian panjang pada batuan-batuan vulkanik di Pulau Sumatra, hasilnya diketahui melalui penelitian dengan pendekatan geokimia batuan, Pulau Sumatra bukanlah sebuah segmen homogen kerak benua seperti yang diyakini selama ini.



Thursday, September 11, 2014

LIPI Kembangkan Teknologi Penyerap Karbon

Gundukan batuan gamping di Kecamatan Kerek, Kabupaten Gresik itu menjadi perhatian ilmuwan dari Pusat Penelitian Geoteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Pada batuan berukuran 50 meter kali 50 meter dengan kedalaman delapan meter, mereka menyuntikkan gas karbon dioksida (CO2).

Mereka sedang uji coba menerapkan teknologi karbonasi untuk menyerap gas karbon pada lokasi yang berdekatan pabrik Semen Indonesia di Gresik, Jawa Timur. “Potensi karbon yang terserap hingga mencapai 12,5 persen dari berat batuan gamping,” kata Kepala Tim Peneliti Geoteknologi LIPI, Anggoro T. Mursito kepada pers 11 September 2014 di Bogor.

Menurut Anggoro, teknologi itu membuat CO2 mengalami reaksi dan karbon akan tersimpan di dalam batuan gamping secara permanen. Memang, karbonasi terjadi bila karbon dioksida larut dalam air atau aqueous solution. Dalam bahasa lain, air dan gas karbon dioksida bereaksi untuk membentuk asam karbonat.

Penelitian di Gresik iklim merupakan salah satu bagian riset untuk mengembangkan teknologi alternatif penyerap karbon. Upaya ini masuk dalam kerangka mitigasi perubahan iklim yang disebabkan meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer. Salah satu gas itu adalah karbon dioksida.

Anggoro mengklaim LIPI berhasil mengembangkan beberapa teknologi untuk menyerap karbon. Lembaganya mengembangkan tiga cara, yaitu hanya mengalirkan gas karbon dioksida, memampatkan CO2 dengan bantuan suhu, dan yang terakhir dengan cara memampatkan dan menyedot kembali CO2.

Karbonasi merupakan teknologi yang dipakai menyerap karbon. Mereka juga menggunakan mineral clay dengan unsur sodium dan magnesium. “Dengan clay, efisiensi menyerap karbonnya sampai 1-11% dengan bantuan aktivator,” ujarnya.

Teknologi lainnya yaitu menggunakan limbah abu tandan kosong kelapa sawit. Limbah ini berasal dari pembangkit listrik tenaga uap biomassa yang memakai tandan kelapa sawit.

Menurut Anggoro, abu ini memiliki potensi menyerap CO2 hingga 25% pada suhu ruang. Penelitian menggunakan clay dan tandan kelapa sawit masih sebatas uji laboratorium. Anggoro menjelaskan penelitian dengan skala lebih besar dan lebih terperinci direncanakan dilakukan tahun depan. Itupun tergantung ada atau tidaknya dana, yang hingga saat ini belum jelas.

Budi Setiawan mengatakan riset ini bisa dijadikan salah satu skenario alternatif penurunan gas rumah kaca di Indonesia. “Sampai saat ini semua skenario berasal dari sektor kehutanan,” ujar Budi yang bertugas di Sekretariat RAN API (Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim) Bappenas.

Dia mengatakan jika hasil penelitian ini terbukti benar mampu secara potensial menyerap karbon, lembaganya akan memasukkan teknologi ini dalam skenario penurunan gas karbon. Sebelumnya Indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan emisi gas-gas rumah kaca sebesar 26 persen secara mandiri, dan sebesar 41 persen bila mendapat bantuan internasional.



Sumber : http://ekuatorial.com

Saturday, August 23, 2014

Selamat Ulang Tahun, LIPI!

Setiap saat ilmu pengetahuan Indonesia berkembang. Ada saja metodologi, inovasi, dan rumusan ilmu baru yang muncul setiap hari. 

Nah, pihak yang ikut bertanggung jawab dalam perkembangan ilmu pengetahuan di Tanah Air adalah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Hari ini, institusi di bawah pimpinan Lukman Hakim tersebut genap berusia 47 tahun. 

Dikutip dari laman LIPI, Sabtu (23/8/2014), proses kelahiran LIPI cukup panjang. Diawali pada abad ke-16, ketika itu Jacob Bontius memulai kegiatan ilmiah di Indonesia dengan mempelajari flora Indonesia dan Rompius. Hasil riset tersebut dia satukan dalam buku berjudul ‘Herbarium Amboinese’. 

Kemudian, sejak pendirian Kebun Raya Indonesia di Bogor pada abad ke-18, dunia ilmu pengetahuan Tanah Air kian berkembang di bawah pengelolaan berbagai lembaga buatan Pemerintah Hindia-Belanda. Pada 1948, lahirlah Organisatie voor Natuurwetenschappelijk Onderzoek atau Organisasi untuk Penyelidikan dalam Ilmu Pengetahuan Alam (OPIPA). Organisasi ini beroperasi hingga 1956. 

Pada 1956, melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1956 dibentuklah Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI). Institusi ini bertugas membimbing perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memberi pertimbangan kepada pemerintah dalam hal kebijaksanaan ilmu pengetahuan. 

Selanjutnya pada 1962, pemerintah membentuk Departemen Urusan Riset Nasional (Durenas). MIPI pun masuk ke departemen ini seraya mengemban tugas tambahan membangun dan mengasuh beberapa lembaga riset nasional. Status Durenas lantas berubah menjadi Lembaga Riset Nasional (Lemrenas) pada 1966. 

Kedua lembaga tersebut, MIPI dan Lemrenas, dibubarkan pemerintah pada 1967. Sebagai gantinya, dibentuk Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan menempatkan Sarwono Prawirohardjo di kursi kepala LIPI. Tugas lembaga baru ini adalah gabungan program kerja Lemrenas dan MIPI. 

Dalam praktiknya, LIPI bertugas membimbing perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) Tanah Air yang bermanfaat bagi rakyat dalam negeri dan penduduk dunia. Tugas ini dijalankan melalui berbagai riset lintas bidang, kompetisi, maupun pelatihan para peneliti. LIPI juga bertugas mencari kebenaran ilmiah yang tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.  

Selama 47 tahun berdiri, LIPI aktif mengembangkan dunia iptek di Indonesia. Hal ini sesuai visinya, "Menjadi lembaga ilmu pengetahuan berkelas dunia yang mendorong terwujudnya kehidupan bangsa yang adil, cerdas, kreatif, integratif, dan dinamis yang didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang humanis." 

Guna menggugah minat penelitian di kalangan generasi muda, LIPI secara rutin menggelar berbagai kompetisi riset. Di antara kompetisi tersebut adalah Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Lintas Bidang Keilmuan, Pemilihan Peneliti  Remaja Indonesia (PPRI), dan National Young Invetor Awards (NYIA).  

Tidak hanya itu, LIPI juga secara berkala menyebarluaskan hasil riset para peneliti Indonesia melalui laman resminya. Bahkan, keaktifan ini membuat LIPI masuk peringkat 100 besar kategori penelitian dan pengembangan terbaik versi Webometrics edisi Juli 2012. LIPI tercatat di urutan 99 dari total 7.532 lembaga penelitian di seluruh dunia. 

Setiap tahun peringatan hari jadi LIPI ditandai dengan Sarwono Prawiroharjo Memorial Lecture (SML) dan pemberiaan Penghargaan Sarwono Prawirohardjo (Sarwono Award). Kedua agenda tersebut merupakan tradisi dan bentuk penghormatan atas jasa-jasa almarhum Prof Dr Sarwono Prawirohardjo sebagai Bapak Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia sekaligus kepala pertama LIPI


Thursday, August 21, 2014

Peringati HUT RI, LIPI Ingin Konsisten Wujudkan Lembaga Berkelas Dunia

Kepala LIPI Prof. Dr. Lukman Hakim menegaskan bahwa dalam peringatan hari ulang tahun (HUT) kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-69 kali ini, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terus berupaya menjaga eksistensinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

“LIPI harus meningkatkan kinerja ilmiah dan konsisten mewujudkan tekad LIPI selama ini menjadi lembaga riset berkelas dunia, dengan misi utama menciptakan great science yang berdampak Besar, Signifikan, dan Nyata (BSN),” tandas Lukman saat memberi sambutan dalam upacara peringatan HUT ke-69 RI pada Minggu (17/8) lalu.

Selain itu, dia berpesan dalam pemerintahan yang baru mendatang, LIPI harus tetap menjaga bahkan meningkatkan kontribusinya dalam dunia pengetahuan. Tak hanya itu, segenap bangsa ini harus pula bisa menjaga nasionalisme dan menghindarkan diri dari perpecahan.

“Sudah seharusnya demokrasi kita yang terus berkembang dan terus diperbaiki ini menjadi wadah bagi setiap warga negara untuk menyalurkan haknya masing-masing dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa,” tegasnya.

Ucapan Terima Kasih

Di lain hal, Kepala LIPI diakhir sambutan mengucapkan terima kasih kepada seluruh sivitas LIPI atas penganugerahan penghargaan Bintang Mahaputera Nararya yang diterimanya.

Penghargaan ini disematkan langsung oleh Presiden RI pada 13 Agustus lalu dan merupakan penghargaan sipil tertinggi atas jasa luar biasa di berbagai bidang yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan serta kemakmuran bangsa dan negara.

“Saya berterima kasih kepada seluruh sivitas LIPI atas pencapaian ini. Semoga kerja keras ini mampu dipertahankan sehingga LIPI memberi kontribusi yang bermanfaat bagi masyarakat dan dunia ilmu pengetahuan,” Lukman mengakhiri. (ms)


Sumber : lipi.go.id

Sunday, August 17, 2014

LIPI transfer teknologi nano melalui INS 2014

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia bersama Masyarakat Nano Indonesia (MNI) memfasilitasi transfer teknologi para praktisi nanoteknologi melalui pelaksanaan Indonesia Nano Summit (INS) 2014.

Kepala Pusat Inovasi LIPI Nurul Taufiqu Rochman di JIExpo Kemayoran Jakarta, Sabtu, mengatakan bahwa penerapan transfer teknologi di dunia industri menjadi hal penting dalam pengembangan dan pemanfaatan riset-riset nanoteknologi selama ini.

Menurut dia, publikasi hasil-hasil penelitian Indonesia berupa jurnal pada jurnal terindeks internasional dan meningkatkan kesadaran peneliti mengenai pentingnya kontinuitas transfer teknologi dalam meningkatkan nilai kebermanfaatan riset. 

Ia berharap INS dapat menjadi langkah promosi hasil-hasil penelitian di Indonesia, terutama di bidang nanoteknologi, sehingga dapat dijadikan solusi dalam pengembangan teknologi maju.

Nanoteknologi, menurut dia, sebenarnya bisa dikembangkan dalam berbagai aplikasi, terutama industri. Oleh karena itu, penting untuk dapat menarik perhatian para peneliti hingga mahasiswa untuk terus mengembangkan teknologi ini pada masa depan.

Menurut Nurul yang juga Ketua Masyarakat Nano Indonesia, pada INS 2014 yang digelar 14--16 Agustus di JIExpo Kemayoran didiskusikan nanoteknologi, transfer teknologi hasil riset, serta penerapan standarisasi produk, terutama industri kimia hilir.

Pada hari ke-3 pelaksanaan INS juga dilakukan peluncuran buku Panduan Inkubasi LIPI. Acara direncanakan dihadiri Kepala LIPI Lukman Hakim beserta Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI Bambang Subiyanto. 

Secara keseluruhan INS 2014 didukung oleh berbagai universitas di Indonesia dan diselingi pula kegiatan seminar dan talkshow terkait dengan nanoteknologi sebagai bagian dari upaya transfer teknologi, termasuk juga pelaksanaan pameran yang dilakukan puluhan industri yang bergerak di bidang nanoteknologi, kimia, otomotif, plastik, dan kemasan, cat, alat berat, kaca, lembaga penelitian, dan industri lain yang mendukung.


Friday, July 11, 2014

Rekomendasi Dunia untuk Penyelamatan Air

The 21st session of the Intergovernmental Council of the International Hydrological Programme (IHP) yang diselenggarakan di Paris, Prancis (18-20/6) telah menghasilkan sejumlah rekomendasi penting terkait water sustainability. Dua dari resolusi tersebut, antara lain mendukung the World’s Large Rivers Initiative (WLRI) sebagai platform ilmiah berbasis global untuk penelitian sungai terpadu serta menyetujui pembentukan HIDROEX International Institute for Education, Capacity Building and Applied Research for Water sebagai bagian institusi UNESCO kategori 1.

Prof. Dr. Iskandar Zulkarnaen, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang hadir mewakili Indonesia mengatakan rekomendasi tersebut merupakan respon terhadap menurunnya kualitas dan kuantitas air akhir-akhir ini. “Tidak bisa dipungkiri, pencemaran dan ekploitasi air telah menyebabkan kita kekurangan pasokan air tawar dan hal tersebut tidak hanya merusak eksosistem tapi berpotensi menghambat pembangunan ekonomi,” ujarnya.

Iskandar lantas mengutip pidato dari perwakilan Direktur Jenderal UNESCO pada pembukaan sidang yang mengatakan bahwa jawaban untuk mengatasi tantangan tersebut adalah dengan memperkuat kerja sama internasional. “Kerja sama global diperlukan untuk memperkuat kebijakan ilmiah terkait water security, baik pada skala nasional maupun regional,” imbuhnya.

Pemilihan Presiden IHP

Sidang tersebut juga diisi dengan pemilihan presiden, wakil presiden dan anggota komisi. Secara aklamasi, Mr. David Korenfeld Federman dari Meksiko terpilih sebagai presiden karena kontribusinya yang besar terhadap pengelolaan sumber daya air. Pada level komisi, Indonesia pun terpilih sebagai salah satu wakil Resolution Drafting Committee bersama delegasi dari Turki, Rusia, Kenya dan Irak.

Sidang Council juga menyetujui pembentukan berbagai Center di beberapa negara yang ditujukan untuk pengembangan dan penelitian beberapa di antaranya tentang ecohydrology, environmental monitoring, water resources dan watershed management. “Persetujuan tersebut selaras dengan agenda IHP yaitu pengembangan divisi ilmu pengetahuan yang terkait dengan air. Sebagai contoh adalah pembentukan HIDROEX yang diajukan Brazilia,” pungkasnya.

IHP merupakan flagship UNESCO dan lembaga satu-satunya program Intergovernmental berbasis air dalam sistem PBB. Lembaga ini mendukung negara-negara mendapatkan solusi atas masalah-masalah terkait air. Dengan beranggotakan 36 negara, tahun ini IHP telah berhasil membantu Afrika dalam proses mitigasi terhadap dampak kekeringan serta memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penyebaran informasi ilmiah terkait banjir. (ys)


Sumber : lipi.go.id

Tuesday, June 24, 2014

P2 Oseanografi LIPI Miliki Kantor dan Laboratorium Baru

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) meresmikan kantor dan laboratorium oseanografi di kawasan Ancol, Jakarta Utara dalam rangka untuk meningkatkan kiprah para peneliti oseanografi dalam riset kelautan. Sebelumnya, gedung ini direnovasi selama hampir 3 tahun.

Acara peresmian dihadari oleh Kepala LIPI Lukman Hakim dan Kepala Pusat Penelitian Oseanografi, Zainal Arifin, Senin (24/6/2014). Gedung ini sendiri letaknya berdekatan dengan Balitbang Kementerian Perikanan dan Kelautan serta Kantor Dinas Hidro Oseanografi milik angkatan laut. Lokasinya tidak jauh dari wahana rekreasi yang ada di Ancol seperti Sea World dan Gelanggang Samudera.

Ada 3 laboratorium yang telah tersedia di gedung ini yaitu laboratorium penginderaan jauh, laboratorium genetika dan molekuler, serta laboratorium preparat basah. Gedung yang coraknya didominasi biru dan putih ini, mempunyai lima lantai yang tiap-tiap lantainya dikhususkan untuk kegiatan para peneliti di oseanografi.

Kantor ini terbuka bagi para mahasiswa atau pelajar yang tertarik untuk mempelajari bidang ilmu oseanografi. Pihak oseanografi LIPI juga memperbolehkan mahasiswa untuk magang. Pusat Penelitian Oseanografi LIPI ini sudah beberapa kali penggantian nama awal berdirinya bernama Lembaga Oseanologi Nasional. Kemudian pada tahun 1986, namanya berubah menjadi Pusat Pengembangan Oseanologi hingga tahun 2001, dan akhirnya menjadi nama yang ada seperti sekarang ini.

Kepala LIPI dalam sambutannya mengatakan, fasilitas baru tersebut diharapkan memacu para peneliti untuk mengembangkan riset kelautan yang bernilai dan bermanfaat bagi masyarakat. Hal ini mengingat riset kelautan di Indonesia masih ketinggalan dibanding negara lain karena masalah fasilitas dan sumber daya manusia.

“Kita sekarang mesti bersyukur ada laboratorium baru, tahun depan ditingkatkan lagi, ini adalah investasi besar bangsa Indonesia,” tandas Lukman.

Menurutnya, LIPI masih perlu melakukan pembaruan fasilitas dan peralatan riset selain penambahan fasilitas baru tersebut. “Riset Indonesia sudah ketinggalan, hampir tidak ada investasi baru sejak 1982, padahal riset butuh peralatan yang memadai,” jelasnya.

Di lain hal, Deputi Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI Prof. Dr. Iskandar Zulkarnaen menambahkan, keberadaan tiga laboratorium anyar yang baru saja diresmikan sangat penting dalam memberikan nilai tambah sumber daya hayati laut. “Saya berharap dengan laboratorium baru disertai aplikasi teknologi remote sensing, kita dapat memprediksi adanya perubahan-perubahan ekosistem pantai dan laut dengan cakupan yang sangat luas,” ungkapnya.

Sementara dari aspek riset, lanjutnya, pihaknya akan membentuk kelompok-kelompok penelitian yang merupakan gabungan peneliti dengan berbagai disiplin ilmu, sehingga dapat memberikan solusi bagi permasalahan kelautan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki.


Sunday, June 8, 2014

Teater Alam Dari Karangsambung : Terancam Aktivitas Pertambangan

Cagar Alam Geologi Karangsambung memiliki luas areal 22.150 hektare yang mengambil posisi di tiga kabupaten, yakni Kebumen, Banjarnegara dan Wonosobo. BIKK Karangsambung LIPI setidaknya telah membagi beberapa wilayah Karangsambung menjadi 32 titik lokasi konservasi. Tiga puluh dua titik itulah yang menjadi petunjuk berharga bagaimana secara ilmiah batuan-batuan itu menjadi pandora, balck box bagimana Pulau Jawa terbentuk.

Di taman geologi yang diklaim geolog terlengkap se-Asia itu, siapapun bisa menjumpai aneka ragam batuan, baik batuan beku, sedimen maupun metamorf. Semua batuan terbilang unik dan mewakili semua karakter. Sebab batuan di Karangsambung terbentuk dari berbagai tempat, misalnya terbentuk di dasar samudera, laut dangkat, daratan hingga aktivitas vulkanik di dalam perairan.

Hal yang tidak berlebihan membuat seorang peneliti senior LIPI, Chusni Ansori, menyebut semuanya ada di Karangsambung. Surga batuan tua itu disebutnya sebagai textbook alam, sebuah jendela tepat melihat proses terbentuknya wujud utuy Asia Tenggara sekalipun. Sebab siapapun yang berkunjung ke Karangsambung, dapat melihat langsung tentang konsep tektonik lempeng.

Chusni menjelaskanm Indonesia merupakan negara dengan wilayah paling labil di dunia, tempat terjadi pertemuan pergerakan tiga lempeng besar, yaitu Hindia-Australia yang bergerak ke utara, Asia-Eropa yang bergerak ke tenggara dan Asia-Pasifik yang bergerak ke barat.

Pertemuan lempeng Hindia-Australia dan Asia itu menghasilkan palung laut dalam yang memanjang dari kepulauan Mentawai hingga kepulauan Banda yang merupakan pusat gmpa tektonik dan menghasilkan jalur gunung berapi di daratan yang dikenal sebagai sirkum mediterania. Sedangkan pertemuan lempeng Pasifik dan benua, menghasilkan palung laut dalam di timur Sulawesi serta deretan gunung berapi dalam jalur gunung api sirkum Pasifik.

"Teori itu bisa dibuktikan di Karangsambung. Artinya, tempat ini layak dijadikan lokasi wisata geologi paling direkomendasikan di Indonesia" ujarnya saat ditemui di kantor BIKK Karangsambung LIPI. Hingga saat ini, Churni melanjutkan, hanya ada tiga lokasi yang memiliki karakteristik sama yang mampu menyibak fakta geologi di indonesia, yaitu daerah Bayat(jawa Tengah), Ciletuh(jawa Barat) dan Karangsambung.

Beberapa lokasi batuan di Karangsambung tak ayal kemudian memiliki nilai hoistoris dan ilmiah yang tinggi. Hal tersebut, sangat bertentangan dengan kondisi sekitar Karangsambung. Di beberapa titik terjadi penambangan yang berjalan cukup sporadis, mulai penambangan emas, batuan hingga pasir di arus Sungai Luk Ulo.

"Ada baiknya keberadaan Karangsambung didukung semua pihak, termasuk pemerintah setempat yang menjadikannya destinasi wisata", ujarnya.

Kepala BIKK Karangsambung LIPI Yugo Kumoro menyebut bahwa Karangsambunbg pada prinsipnya merupakanlahan penelitian bagi para calon geolog. Tiap tahunnya banyak mahasiswa jurusan geologi menjadikan Karangsambung lokasi kuliah lapangan. "Rata-rata kunjungan 12 ribu mahasiswa per tahun", katanya.

Hingga saat ini, Yugo mengungkapkan, hanya beberapa lokasi yang sudah diamankan LIPI dengan cara membeli sebagian areal tersebut dari masyarakat setempat. Daerah yang telah dimiliki LIPI antara lain, Wagir Sambeng, Pucangan, dan Kali Muncar.

"Sangat kecil dari total luas lahan di Karangsambung" ujarnya. Selain itu ia menambahkan, pihaknya juga terus melakukan koordinasi dengan pemerintah desa, seperti lurah dan sekretaris desa untuk membantu mengawasi penambangan yang berpotensi menambah parah kerusakan. Solusi populer lain telah dilakukan, Yugo mengungkapkan, dengan berupaya menjadikan Karangsambung sebagai destinasi wisata bersama pemerintah daerah. "Kita sudah ajukan penawaran ke berbagai tingkatan hingga pusat dan belum ada tindak lanjut", katanya.


Sumber : Republika Cetak, Minggu 8 Juni 

Friday, June 6, 2014

LIPI dan Leiden University Perkuat Kerja sama Riset

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof. Dr. Lukman Hakim menandatangani kerja sama bidang riset dengan Rector Magnificus and President Leiden University Prof. Carol Stoker yang diwakili Dean of the Faculty of Humanities Leiden University Prof. Wim van den Doel pada Jum’at (6/6) lalu, di Leiden University, Belanda. Pada saat penandatanganan ini, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Belanda Dr. Hari Purnomo turut hadir menyaksikan.

Lukman pada kesempatan tersebut mengharapkan bahwa kerja sama itu mampu memberikan banyak dampak positif bagi kedua pihak. “Banyaknya peneliti LIPI yang mendapat kesempatan studi lanjut di Leiden University, kerja sama yang saling menguntungkan dengan Kebun Raya dan penelitian kelautan menjadi indikator capaian kerja sama selama ini,” jelas Kepala LIPI.

LIPI dan Leiden University memiliki sejarah panjang dalam kerja sama riset di berbagai bidang. Beragam riset bersama telah dijalankan, antara lain dengan Institute of Environmental Sciences, Faculty of Sciences.

Di bidang sosial dan kebudayaan, LIPI telah lama menjalin kerja sama dengan Koninklijk Instituut Voor Taal- Land,-En Volkenkunde (KITLV). Penggabungan KITLV ke dalam Leiden University mendorong kedua pihak untuk kembali memperkuat kerja sama.

“Penyatuan KITLV di Leiden University akan semakin memperkuat kerja sama dalam bidang sosial dan kemanusiaan. Terlebih saat ini, LIPI melalui kedeputian Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan memiliki riset sosial dengan tema Global Village,” kata Lukman.

Turut hadir bersama Kepala LIPI adalah Wakil Kepala LIPI Dr. Djusman Sajuti, Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Dr. Zainal Arifin, Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI Dr. Bambang Sunarko, dan Kepala Biro Kerja Sama dan Pemasyarakatan Iptek LIPI Nur Tri Aries, MA.

Dalam kesempatan tersebut, juga diselenggarakan workshop rencana implementasi kerja sama bidang sains dengan Dean Faculty of Sciences Leiden University beserta jajarannya


Sumber : lipi.go.id

Wednesday, May 14, 2014

L’oreal Gandeng LIPI Tingkatkan Perhatian Generasi Muda pada Laut

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui UPT Loka Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia Oseanografi (LPKSDMO) Pulau Pari bekerja sama dengan PT. L’oreal Indonesia menyelenggarakan kegiatan bertaraf nasional “L’oreal Science Girl Camp 2014” pada 13-14 Mei ini yang berlangsung di Putri Duyung Resort, Ancol. Kegiatan ini diikuti oleh 45 siswi kelas 10 dari berbagai SMA di Indonesia yang menjadi finalis karya tulis ilmiah.

Bertema Pirates of the SEA (Science Education Academy), kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan perhatian generasi muda pada dunia kelautan. LIPI yang memiliki pusat penelitian bidang kelautan tertua di Indonesia memiliki tanggung jawab untuk menularkan semangat penelitian terhadap generasi muda Indonesia.

Dalam sambutannya pada acara pembukaan di Pusat Penelitian Oseanografi LIPI (P2O), kepala UPT LPKSDMO, Triyono mengatakan bahwa ini merupakan kegiatan yang baik untuk menyadarkan bahwa Indonesia memiliki potensi kelautan yang besar.

“Sebagai negara kepulauan, Indonesia terdiri dari 70 persen perairan dan 30 persen daratan. Namun selama ini yang terjadi adalah pembangunan kita terlalu berorientasi ke darat,” ungkapnya. Dengan potensi yang sedemikian besar dan degradasi yang sering terjadi, Triyono melanjutkan, sudah saatnya penelitian di bidang kelautan lebih ditingkatkan.

Sejalan dengan hal itu, Head of Communication L’oreal Indonesia, Melanie Masriel memaparkan bahwa ini merupakan tahun ke 10 L'Oreal mengadakan kompetisi sains. “Setelah berjalan selama 10 tahun, ini pertama kalinya kita mengangkat tema perairan,” jelasnya. Ia juga mengatakan bahwa pemenang nantinya akan berkesempatan untuk mengunjungi laboratorium kosmetik L'oreal di Shanghai, China.

Acara pembukaan diikuti oleh pemaparan mengenai dunia penelitian kelautan oleh beberapa perempuan peneliti LIPI yang mendapatkan antusias dari para siswi. Pemaparan dilanjutkan dengan kunjungan ke berbagai laboratorium P2O LIPI.

Para siswi sangat antusias dengan banyaknya jumlah koleksi spesimen biota laut yang ada di laboratorium LIPI. “Ternyata banyak hal yang bisa dipelajari dari laut Indonesia,” ujar Mita Revita, salah satu peserta.


Sumber : lipi.go.id
 
Copyright © 2013 Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian